All about us~One Night [Akame fic]

All about us~One Night [Akame fic]

this is my old fic XD

Title : All about us~One Night
Author : Kizuna Aoi
Genre : Mistery, Comedy, A little Smutt XD
Rating : PG-17 [ada sedikit adegan yg *******] maksud?? XD
A/N : huehehehehehehehe fic iseng yang teride gitu ajah XD ini jugak sekalian menyambut hari valentine, hahahahaha valentine koq ficnya begini?! Yaaahh ini Cuma iseng ajah, moga2 ada ide fic manis laen XDD

“Hei, kau tidak berani Jin? Jangan jadi pengecut~” Kazuya meledek Jin yang berjalan jauh di belakangnya. Ia terlihat mencibir kesal pada Kazuya yang berjalan lebih cepat di depannya.

Jin melihat kanan dan kiri dengan gelisah. Kemudian berlari cepat menghampiri Kazuya ketika mendengar suara-suara aneh.

“Ada apa, Jin?” tanya Kazuya sambil tertawa. Jin terlihat menggenggam erat lengan Kazuya dengan dua tangannya.

“Sebaiknya jangan masuk Kazuya, hutan ini saja menyeramkan. Apalagi dengan rumah tua itu.” ucap Jin ketakutan sambil menunjuk ke arah rumah tua di depan mereka.

Kazuya tertawa, tubuh Jin ikut bergerak-gerak karena tawa laki-laki yang lebih muda, “Kau itu pengecut sekali sih.” celetuk Kazuya yang kemudian dengan cueknya berjalan masuk ke dalam rumah tua itu. Jin yang takut dan tidak mungkin seorang diri di luar, terpaksa mengikuti Kazuya.

Kreeet.
Pintu tua itu dibuka oleh Kazuya, keduanya mendongak, memandang langit-langit ruang utama itu.
Terlihat begitu menyeramkan. Atap-atapnya penuh dengan lukisan wanita berambut panjang, dengan pakaian serba merah panjang membalut tubuh indahnya. Di tengahnya menggantung lampu hias yang sangat besar.

“Whoa! Sugoi!” seru Kazuya terpesona.

“Whoa! Kowai!” celetuk Jin yang malah semakin merapat pada Kazuya, “Pulang saja yuk, Kazu.” pintanya.

Kazuya tidak peduli dengan ucapan Jin, ia lebih tertarik dengan sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka, “Jin, di ruang itu sepertinya bagus.” Ia menunjuk ruangan itu.

Tak ada jawaban dari Jin, ia tetap menarik tangan Kazuya dan mencegahnya untuk masuk lebih dalam, tapi Kazuya dengan tidak peduli berjalan ke arah tempat itu, meninggalkan Jin di belakang.

“Aku di sini saja.” ucap Jin pada Kazuya. Jin memutuskan berdiri di depan pintu. Sementara itu Kazuya berjalan menuju sebuah ruangan yang membuatnya penasaran itu.

Jin memandang seluruh ruangan. Perasaannya tidak tenang dan sangat gelisah. Sepasanga matanya kini terhenti pada satu objek, pada Kazuya yang sedang menaiki tangga.
“Kazuya terlalu nekad.” celetuknya.

Tiba-tiba mata Jin menangkap sosok orang lain selain dirinya dan Kazuya. Wanita berambut panjang dengan pakaian serba merah. Mata Jin membelalak lebar ketika wanita itu berjalan ke arah Kazuya.

“Ka-kazu!” panggil sedikit panik. Kazuya menoleh pada Jin yang justru malah mengakibatkan dirinya salah menginjak anak tangga. Terlebih lagi rumah itu terlihat remang-remang, jadi Kazuya tidak melihat jelas jalan di depannya.
Jin segera berlari untuk menghampiri Kazuya dan menolongnya.

“Kazu!” Dengan secepat kilat Jin menangkap tubuh Kazuya, hingga tubuh Kazuya menindih tubuhnya yang terlentang di bawah, “Daijoubu ka?” tanyanya panik.

Kazuya dengan cepat menyingkir dari atas tubuh Jin, ”Ah, Jin. Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kau tidak apa-apa?” tanyanya cemas.

Jin mencoba duduk, ”Tidak apa kok.” ucapnya yakin, ”Kau benar tidak apa-apa Kazuya?” tanya Jin masih cemas kalau Kazuya kenapa-kenapa.

“Ah ha-hai. Aku tidak apa-apa, Jin.” Kazuya berusaha meyakinkan Jin kalau dirinya memang tidak apa-apa.

“Tadi ada wanita yang akan mendekatimu, Kazu. Makanya aku memanggilmu.” ucap Jin mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk pada tempat wanita berdiri tadi.

Kazuya menoleh arah telunjuk Jin, “Mana Jin?” tanyanya heran.

“Ah, tadi ada di sana. Kau tidak melihat tadi?” tanya Jin memastikan.

Kazuya menggeleng pelan. Jin tersenyum kecut, wajahnya tiba-tiba pucat, “Sama sekali tidak?” tanya Jin memastikan lagi. Lagi-lagi Kazuya menggeleng yakin.

Jin menelan ludah, “Lalu tadi yang kulihat apa?” tanyanya kecut.

Kazuya mengangkat bahunya, “Seperti apa dia?”

“Wanita berambut panjang dan berpakaian serba merah.” Jelas Jin.

Kazuya sempat berpikir, ia sepertinya mengenali ciri-ciri seperti itu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, “Eh Jin, Itu kan…” Jari telunjuknya menujuk ke arah atas. Kazuya dan Jin pun mendongak.

“Jin, kau tidak bercanda kan?” tanya Kazuya yang mulai merasa takut.

Jin menggeleng yakin, “Itu sungguhan.”

Kazuya segera berdiri dan menarik Jin menuju pintu utama. Tapi sialnya pintu itu tiba-tiba tertutup. Kazuya mencoba membukanya, tapi usahanya ternyata sangat sia-sia.

Jin menarik Kazuya dan mencoba mencari jalan keluar lain.
“Kau sih nekad!” seru Jin pada Kazuya.

“Hah? Kau ingin menyalahkanku? Yang menantangku lebih dulu siapa?” Kazuya tidak mau kalah.

“Aku kan hanya bercanda!” protesnya.

“Tapi kau—” ucapannya terhenti ketika di lantai atas ada sebuah pintu yang terbuka.

“Jin, sepertinya memang ada sesuatu. Ayo kita selidiki!” ajak Kazuya yang kemudian menarik tangan Jin dan berjalan menuju lantai atas, terutama ruangan yang tadi pintunya sempat terbuka.

“Ka-kazu! Jangan ke sana! Pasti itu jebakan dari wanita tanpa kaki itu!” cegah Jin. Kazuya menghentikan langkahnya, ia membalikkan tubuhnya dan memandang Jin, “Wanita itu…tanpa kaki?”

“Hantu tanpa kaki kan?” tanya Jin polos.

“Ha? Yang kau lihat benar-benar tanpa kaki?” tanya Kazuya yang mulai merasa tidak nyaman.

“Ng, hantu itu makhluk tanpa kaki kan? Kalau wanita itu hantu berarti tanpa kaki.” jelas Jin super polos atau lebih tepatnya…bodoh.

“Jin, kau itu sempat-sempat berbicara tidak penting.” celetuk Kazuya yang kemudian menarik kembali tangan Jin dan berjalan menuju ruangan itu.

Keduanya tiba di ruang yang pintunya terbuka sendiri itu. Dengan ragu mereka pun masuk. Ruangan dengan satu ranjang yang besar, ruangan itu hanya disinari oleh lilin-lilin kecil di atas meja.

Mata keduanya tiba-tiba tertuju pada sebuah bunga merah yang berada di atas meja. Kazuya mendekati, Jin pun mengikuti, “Bunga apa ini?” tanya Kazuya yang kemudian mengambil bunga berwarna merah terang itu. Bunga yang hanya memiliki dua kelopak.

Tiba-tiba ada aroma aneh yang keluar dari bunga itu. Aroma asing bagi Kazuya, dan entah mengapa ketika menghirupnya ada sesuatu yang aneh pada dirinya.

Jin melihat perubahan Kazuya yang aneh, karena laki-laki itu tiba-tiba membuka kancing kemejanya, dan berjalan mendekati Jin.

“Ka-kazu, ada apa?” tanya Jin heran. Kazuya melupakan kancing kemejanya, ia lebih memilih merapatkan tubuhnya pada Jin, tangan kanannya mengelus pipi Jin mesra.

“Kazu? Hei~” Jin terlihat panik dan gelisah. Tingkah Kazuya kali ini membuatnya menjadi salah tingkah.

Tak lama setelah itu bibir tipis Kazuya menempel pada bibir Jin. Jin sempat terkejut dan mendorongnya, “Hei Kazu, kenapa tiba-tiba?”

“Apa kau tidak menginginkanku, Jin?” Kazuya berkata dengan suara mendesah. Membuat Jin menjadi sangat salah tingkah.

Sedetik kemudian, kini Jin menghirup aroma aneh yang keluar dari bunga itu. Membuat dirinya juga merasa menjadi aneh.

Dengan cepat ia menarik Kazuya dan mendekapnya sangat erat, tak lama setelah itu Jin mencium bibir tipis Kazuya, melumatnya mesra.

“I really want you…” Desah keduanya bernafsu.

Jin mencium bibir Kazuya dengan bernafsu, merasakan betapa manisnya bibir laki-laki yang lebih muda, melumatnya di setiap sudut.

Tangan Jin memegang pinggang Kazuya mesra, satu tangannya yang bebas menyentuh lehernya, ia sedikit memiringkan kepalanya, untuk sekadar memberikan sentuhan yang lebih dalam dan panas.

Kazuya melingkarkan kedua tangannya di leher Jin, menikmati sentuhannya yang menggairahkan. Sementara tangan Jin menelusuri dari pinggang menuju punggung Kazuya, mengelusnya mesra.

Tak lama setelah itu tangan Kazuya berlalu dari leher Jin, ia menuju pada kaus yang dipakai Jin, kemudian membukanya dengan segera.

Jin juga tak kalah bernafsu, ia membuka kancing-kancing kemeja Kazuya yang belum terbuka seluruhnya, kemudian membukanya dan membiarkan kemeja itu jatuh ke bawah. Bibir keduanya masih bertautan.

“Touch me Jin. Touch me more.” desah Kazuya bernafsu di sela-sela ciuman keduanya.

Jin melepas ciumannya, ia meraih tangan Kazuya dan menggiringnya ke atas ranjang.

Kazuya terlentang di ranjang, Jin pun segera naik ke ranjang, posisinya menindih tubuh Kazuya.

“I love you, Kazuya.” desis Jin bernafsu. Ia kembali mencium bibir Kazuya, bersamaan dengan itu tangannya yang bebas menyentuh bagian paling sensitif Kazuya yang masih tertutup celana.

“Humpphh Jin, touch me…touch me…” pinta Kazuya tidak sabar, menginginkan sentuhan yang lebih liar.

Ciuman mesra Jin semakin turun ke bawah, ia menciumi leher putih Kazuya dengan sangat bernafsu, menjilat dan bahkan menggigitnya, membuat laki-laki yang lebih muda mengerang tertahan.

Tangan Jin yang bebas mulai membuka kancing celana Kazuya dan bahkan menarik turun resletingnya, kemudian dengan cepat tangan itu menyelinap masuk.

“Aaahhh Jin~” desah Kazuya pelan. Ia mengerang ketika tangan Jin dengan nakal memainkan bagian paling sensitifnya, ”Jin, let’s hurry. Fuck me~” pinta Kazuya payah-payahan karena tangan Jin yang semakin nakal memainkan miliknya.

Kriieeet.
Brak!
Keduanya berkedip. Kazuya memandang Jin heran, Jin pun melakukan hal yang sama. Kazuya merasakan sesuatu yang aneh, ”JI-JIN! KAU MEMEGANG APA?!?” teriak Kazuya yang kemudian mendorong Jin sekuat tenaga sehingga membuat Jin jungkir balik—jatuh dari ranjang.

”Uuuhh Itai~” rintihnya. Ia mengelus bagian tubuhnya yang sakit. Kazuya dengan segera menutup celananya yang hampir terbuka.

”Kau ingin memerkosaku Jin?!” gerutu Kazuya kesal.

”Hei hei jangan salah paham. Kau yang menyerangku tadi. Bajuku saja sampai terbuka.” protes Jin.

”Hah? Tadi jelas-jelas tanganmu menyentuh milikku, kau masih ingin menyangkal?!” Kazuya tidak mau kalah, ”Eh, sepertinya memang ada yang tidak beres dengan rumah tua ini…” ucap Kazuya akhirnya.

”Kurasa juga begitu, terutama kamar ini.” sahut Jin.

Kazuya dengan segera menarik tangan Jin dan mencari pintu keluar. Tapi ketika tiba di depan pintu utama keduanya dikejutkan dengan sosok wanita berambut panjang dan lebih jelasnya lagi berpakaian serba merah. Keduanya menelan ludah, Jin dengan reflek bersembunyi di belakang punggung Kazuya.

”A-a-a-aku tidak akan mengganggumu.” ucap Kazuya gugup. Jin yang bersembunyi di belakang punggungnya hanya mengangguk-angguk.

Wanita itu hanya tersenyum dan membuat Kazuya maupun Jin merinding dibuatnya, ”Kalian memang cocok.” ucapnya. Kemudian ia menghilang dan membuat keduanya semakin ketakutan. Sedetik kemudian pintu itu pun terbuka. Dan dengan secepat kilat Kazuya lari sambil menarik Jin sekuat tenaga.

”Aku kan bilang apa!? Jangan masuk! Kau tetap nekad!” protes Jin dalam perjalanan melarikan dirinya.

”Jangan bahas sekarang! Yang penting kita keluar dari sini dulu!” ucap Kazuya kesal.

”Ternyata kau penakut juga, Kazuya.” celetuk Jin tiba-tiba.

”Eh?”

”Kau meledekku pengecut, ternyata kau juga sama.” ucap Jin sambil cekikikan.

Kazuya menghentikan langkahnya, ia memandang Jin sambil cemberut, ”Kau mau balas dendam?” ucapnya.

”Ng, tidak.” jawab Jin cuek.

”Kau itu ya—”

”Kalian cocok ya….” suara wanita itu tiba-tiba menggema kembali, dan membuat Jin dan Kazuya saling pandang, ”LARIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!!

!!!!!!” teriak keduanya bersamaan.

”Aku tidak mau kemari lagi!!!”

”Aku apalagi!!”

”Jin tunggu aku!!!”

* ini gw copas dri notes fb sseorang
hahaha~
seru gq crita’aa??*
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s